Rabu, 07 September 2016

Wawancara Dosen Pembimbing Akademik (DPA)


Wawancara Dosen Pembimbing Akademik (DPA)







Nama  : Selo, S.T. , M.T. , M.SC. , PH. D.
Asal    : Yogyakarta

            Sewaktu SMA dulu Bapak Selo sempat merasa bingung akan melanjutkan kuliah diprodi apa. Namun karena pada waktu itu mata pelajaran yang paling menonjol adalah fisika dan matematika maka karena itu beliau memutuskan untuk memilih elektro pada pilihan pertama dan statistika pada pilihan kedua. Ada beberapa kendala saat memulai kuliah di Universitas Gadjah Mada, yang pertama yaitu beliau dituntut untuk lulus dengan cepat oleh karena itu Bapak Selo mengikuti program kuliah dalam kurun waktu lima tahun, karena pada jaman itu kuliah lima tahun sudah merupakan waktu yang paling cepat. Selain itu beliau juga memiliki masalah pada kendaraan yang beliau pakai sehari-hari. Waktu itu Bapak Selo hanya memiliki sepeda, oleh karena itu beliau memiliki kesusahan karena jarak yang ditempuh untuk sampai di tempat belajar atau fakultas teknik + 13 KM.
            Bapak Selo tidak banyak mengikuti kegiatan kemahasiswaaan dan berbagai organisasi lainnya karena beliau harus lulus dalam kurun waktu lima tahun. Setelah beliau lulus, Bapak Selo memulainya dengan mengajar menjadi dosen yang pada waktu itu mengajar mata kuliah sistem kendali. Pada tahun 2003-sekarang beliau masih mengajar hanya saja berganti ke mata kuliah rekayasa perangkat lunak yang sekarang merupakan mata kuliah bagi mahasiswa prodi teknologi informasi.
            Bapak Selo melanjutkan pendidikan studi S2 ke Norwegia. Pada tahun 2001 saat hendak pergi ke Norwegia beliau memiliki pengalaman unik yaitu beliau belum pernah naik pesawat sebelumnya. Sehingga perjalanan dari Yogyakarta ke Jakarta yang dapat beliau tempuh dengan pesawat tetapi ditempuhnya dengan bis sehingga memakan waktu lebih lama yaitu tujuh jam perjalanan darat. Setelahnya beliau hendak menggunakan pesawat untuk transit dengan tujuan beberapa negara sebelum sampai di Norwegia. Seperti negara Singapura kemudian Amsterdam dan yang terakhir Norwegia. Dalam proses transit tersebut Bapak selo lebih memilih untuk diam di pesawat sampai pesawat kembali lepas landas dikarenakan takut terlambat untuk lepas landas jika beliau akan turun dari pesawat.
            Menurut pengalaman dari Bapak Selo sekolah di Norwegia memiliki sistem dengan mata kuliah yang lebih sedikit namun sks yang ada lebih banyak. Metode pembelajaran di Norwegia sama dengan metode pembelajaran yang ada di Indonesia. Namun yang membedakan adalah sistem pembelajaran untuk sekolah dasar atau SD. Di Norwegia anak-anak SD tidak mengenal kata PR bahkan hanya ada dua kali ujian yaitu kelas 4 dan kelas 7. Anak-anak SD di Norwegia diajarkan bagaimana caranya memberikan argumentasi yang baik sehingga dalam proses belajar mengajar suasana kelas jauh lebih hidup karena murid-murid yang selalu ingin tahu lebih segala sesuatu ilmu yang disampaikan. Bapak Selo juga tertarik dengan belajar bahasa asing dari berbagai negara dan daerah karena dalam belajar bahasa asing disitu kita juga dituntut untuk belajar kebudayaan dari bahasa yang negara atau daerahnya kita pelajari tadi. Dengan belajar bahasa asing kita juga dapat membuka wawasan yang lebih luas pada ilmu pengetahuan terutama dari negara bahasa itu sendiri.
            Bapak Selo memiliki beberapa sistem dalam mengajar di kelas yaitu dengan metode presentasi seperti baisa atau menggunakan power point. Pembelajaran tersebut biasa beliau sampaikan untuk mahasiswa baru. Sedangkan untuk mahasiswa semester empat beliau menerapkan sistem pembelajaran berbasis problem solving. Disistem tersebut  kita dituntut untuk mencari masalah yang kedepannya akan timbul serta berdiskusi untuk dapat menyelesaika masalah tersebut. Di dalam kantor beliau terdapat beberapa kakak tingkat dan enam dosen lainnya dengan Bapak Selo sebagai kepala laboratorariumnya. Beliau memberikan beberapa saran supaya menjadi mahasiswa yang baik yaitu sebagai mahasiswa kalian haruslah seimbang baik dalam bidang akademik dan bidang yang lainnya. Sehingga sebagai mahasiswa dapat belajar cara untuk berorganisasi yang baik serta meraih prestasi yang cukup di akademik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentarnya.....