Rabu, 07 September 2016

Kenalan Kakak Tingkat Angkatan

Kenalan Kakak Tingkat Angkatan

            Waktu kenalan angkatan dengan kakak tingkat yang di dteti saya merasa canggung karena banyak diantara mereka yang lebih akrab dengan adik kelas yang lain. Tetapi semua itu dimulai memang dari kenalan terlebih dahulu barulah kita dapat mengakrabkan diri dengan orang yang kita kenal. Kakak tingkat 2015  yang berhasil berkenalan dengan saya berjumlah 15 orang dan dua diantaranya kakak tingkat saya sewaktu SMA di Sugar Group. Untuk kakak tingkat 2014 saya berhasil berkenalan dengan 11 orang. Sedangkan untuk kakak tingkat 2013 saya berhasil memintai berkenalan dengan 6 orang. Sedangkan untuk kakak tingkat angkatan 2012 saya berhasil memnita berkenalan dengan 9 orang. Tidak hanya sekedar memintai tanda tangan dan mendata diri namun juga saya dan beberapa kakak tingkat sempat bercererita sesuatu. Namun jika beliau memang sedang seibuk biasanya saya hanya meminta tanda tangannya saja.Walau saya terkadang harus masuk laboratorium dan juga sempat diusir karena banyak diantara kakak tingkat yang sibuk akan tugas laporan praktikum. Selain itu saya juga sempat masuk di ruang eeic dan berbincang-bincang dengan kakak tingkat tentang masalah-masalah yang sudah dihadapi selama satu bulan kuliah ini.

Kenalan Angkatan 2016 TETI-UGM



Kenalan Angkatan

            Waktu kenalan angkatan 2016 bersama kami memulainya dengan mencoba kenal satu sama lain melalui kelas yang ada terlebih dahulu. Tidak hanya kenal biasa waktu itu kami juga sempat sharing sesuatu seperti kalau untukku sering sekali ditanya “Kok kamu bisa bahasa jawa”. Waktu itu saya hanya menjawab bisa sedikit-sedikit karena pernah diajari teman dan orang tua saya. Kenalan kami berlanjut pada keesokan harinya di dekat lapangan satu bumi kami kenalan angktan dari jam 3.30 sore hari hingga mendekati pukul 5.30 sore hari. Pada akhirnya walau tidak semua sempat saya tanyai untuk kenalan angkatan karena memang ada beberapa orang yang tidak datang waktu kenalan itu. Kenalan berlanjut di setiap pembelajaran di kelas usai, dan saya baru mendapat kenalan dengan angkatan 190 orang dari 239 jumlah orang yang ada.

Wawancara Dosen Pembimbing Akademik (DPA)


Wawancara Dosen Pembimbing Akademik (DPA)







Nama  : Selo, S.T. , M.T. , M.SC. , PH. D.
Asal    : Yogyakarta

            Sewaktu SMA dulu Bapak Selo sempat merasa bingung akan melanjutkan kuliah diprodi apa. Namun karena pada waktu itu mata pelajaran yang paling menonjol adalah fisika dan matematika maka karena itu beliau memutuskan untuk memilih elektro pada pilihan pertama dan statistika pada pilihan kedua. Ada beberapa kendala saat memulai kuliah di Universitas Gadjah Mada, yang pertama yaitu beliau dituntut untuk lulus dengan cepat oleh karena itu Bapak Selo mengikuti program kuliah dalam kurun waktu lima tahun, karena pada jaman itu kuliah lima tahun sudah merupakan waktu yang paling cepat. Selain itu beliau juga memiliki masalah pada kendaraan yang beliau pakai sehari-hari. Waktu itu Bapak Selo hanya memiliki sepeda, oleh karena itu beliau memiliki kesusahan karena jarak yang ditempuh untuk sampai di tempat belajar atau fakultas teknik + 13 KM.
            Bapak Selo tidak banyak mengikuti kegiatan kemahasiswaaan dan berbagai organisasi lainnya karena beliau harus lulus dalam kurun waktu lima tahun. Setelah beliau lulus, Bapak Selo memulainya dengan mengajar menjadi dosen yang pada waktu itu mengajar mata kuliah sistem kendali. Pada tahun 2003-sekarang beliau masih mengajar hanya saja berganti ke mata kuliah rekayasa perangkat lunak yang sekarang merupakan mata kuliah bagi mahasiswa prodi teknologi informasi.
            Bapak Selo melanjutkan pendidikan studi S2 ke Norwegia. Pada tahun 2001 saat hendak pergi ke Norwegia beliau memiliki pengalaman unik yaitu beliau belum pernah naik pesawat sebelumnya. Sehingga perjalanan dari Yogyakarta ke Jakarta yang dapat beliau tempuh dengan pesawat tetapi ditempuhnya dengan bis sehingga memakan waktu lebih lama yaitu tujuh jam perjalanan darat. Setelahnya beliau hendak menggunakan pesawat untuk transit dengan tujuan beberapa negara sebelum sampai di Norwegia. Seperti negara Singapura kemudian Amsterdam dan yang terakhir Norwegia. Dalam proses transit tersebut Bapak selo lebih memilih untuk diam di pesawat sampai pesawat kembali lepas landas dikarenakan takut terlambat untuk lepas landas jika beliau akan turun dari pesawat.
            Menurut pengalaman dari Bapak Selo sekolah di Norwegia memiliki sistem dengan mata kuliah yang lebih sedikit namun sks yang ada lebih banyak. Metode pembelajaran di Norwegia sama dengan metode pembelajaran yang ada di Indonesia. Namun yang membedakan adalah sistem pembelajaran untuk sekolah dasar atau SD. Di Norwegia anak-anak SD tidak mengenal kata PR bahkan hanya ada dua kali ujian yaitu kelas 4 dan kelas 7. Anak-anak SD di Norwegia diajarkan bagaimana caranya memberikan argumentasi yang baik sehingga dalam proses belajar mengajar suasana kelas jauh lebih hidup karena murid-murid yang selalu ingin tahu lebih segala sesuatu ilmu yang disampaikan. Bapak Selo juga tertarik dengan belajar bahasa asing dari berbagai negara dan daerah karena dalam belajar bahasa asing disitu kita juga dituntut untuk belajar kebudayaan dari bahasa yang negara atau daerahnya kita pelajari tadi. Dengan belajar bahasa asing kita juga dapat membuka wawasan yang lebih luas pada ilmu pengetahuan terutama dari negara bahasa itu sendiri.
            Bapak Selo memiliki beberapa sistem dalam mengajar di kelas yaitu dengan metode presentasi seperti baisa atau menggunakan power point. Pembelajaran tersebut biasa beliau sampaikan untuk mahasiswa baru. Sedangkan untuk mahasiswa semester empat beliau menerapkan sistem pembelajaran berbasis problem solving. Disistem tersebut  kita dituntut untuk mencari masalah yang kedepannya akan timbul serta berdiskusi untuk dapat menyelesaika masalah tersebut. Di dalam kantor beliau terdapat beberapa kakak tingkat dan enam dosen lainnya dengan Bapak Selo sebagai kepala laboratorariumnya. Beliau memberikan beberapa saran supaya menjadi mahasiswa yang baik yaitu sebagai mahasiswa kalian haruslah seimbang baik dalam bidang akademik dan bidang yang lainnya. Sehingga sebagai mahasiswa dapat belajar cara untuk berorganisasi yang baik serta meraih prestasi yang cukup di akademik.